gelar prof blum menjamin

13 11 2008

Gelar akademis bagi sebagian besar merupakan salah satu pengakuan legal terhadap kemampuan akademis seseorang. Termasuk saya. Namun, jika gelar tersebut sedemikian panjangnya dan ditambah pula sebutan Prof, seharusnya juga ilmu dan analisanya mencerminkan gelar tersebut. Contoh nyata yang saya alami terjadi pada ibu tercinta. Pada awal tahun ini, cobaan datang tanpa diundang sedikitpun. Keluhan sesak nafas semakin sering diucapkan oleh ibu, yang membuat check up rutin ke dokter. Check up pertama ke dokter internal. Di diagnosa mengalami bronchitis. Karena ragu, akhirnya mencari dokter internal lain untuk mendapatkan second opinion.. Dokter kedua dengan gelar prof, mendiagnosa dengan hasil sama plus diagnosa ada pembengkakan di empedu. Diberikan resep. Boomm,., resep harus ditebus di apotek dokter bersangkutan. Suatu bisnis yang memberatkan pasien, karena harga obat jauh berbeda dengan apotek diluar.

Perawatan berjalan dengan rutin sampai 2 bulan, namun tidak menunjukkan perkembangan signifikan, sampai akhirnya harus menginap di Rumah Sakit. Karena Rumah Sakit bukan yang direkomendasikan olehnya, terkesan pelayanan yang diberikan seadanya, walaupun dengan vip room, yang akhirnya berakibat harus masuk ICU. Setelah check up, saya tanya kondisi ibu, dan boooomm ketiga,, ada kebocoran jantung. What the fuck !! Dokter spesialis jantung datang untuk melakukan pemeriksaan, dan memang terlihat ada kebocoran bilik kiri pada waktu dilakukan semacam USG ke jantung. Karena terlihat ada perbedaan antara bilik kanan dan bilik kiri. Sejak itu ibu ditangani oleh 2 Dokter. Seminggu di ICU bukan waktu yang sebentar, namun akhirnya kondisi membaik juga.. Thanks GOD. Pasca rawat inap. Check up tetap dilakukan kepada 2 Dokter. 3 bulan perawatan rutin, kondisi sudah 90 % membaik.. sampai akhirnya dikatakan bahwa batu yang ada di empedu sudah lepas dan cukup dilakukan dengan rawat jalan juga dengan pemberian resep yang harus ditebus disana juga. Mungkin ini kesalahan yang harusny tidak perlu diulang lagi, tapi mengingat yang mengetahui kondisi dari awal sampai akhir adalah dokter yang bersangkutan, maka niat untuk ganti dokter tidak dilakukan, mengingat kondisi sudah semakin baik. Tapi kenyataan berkata lain, setelah diberikan obat penghancur itu, satu bulan kemuduin, semua efek samping dari obat itu muncul, mulai diare, kulit memerah, perut kembung. Check up ke Dokter, namun dokter tidak praktek seminggu.. pilihan yang sangat sulit, antara menghentikan konsumsi obat atau lanjut sampai dokter datang dengan berbagai efek sampingnya.. alternatifnya konsultasi ke Dokter Jantung karena takut berimbas ke jantung. Oleh dokter jantung, diminta menghentikan komsumsi obat karena dikhawatirkan perut yang kembung akan mendorong jantung sehingga jantung bermasalah lagi. Karena efek obat itu tidak hanya sehari, tapi sampai 3 hari, akhirnya kondisi ibu ambruk juga. Kembali lagi menginap, dengan kondisi dokter belum ada. Perawatan standar diberikan untuk memulihkan kondisi tubuh sampai akhirnya Dokter itu datang. Keluhan diberikan, dan seperti biasa hanya diperiksa dengan stetoskopnya dan diberikan obat berupa vitamin. Kondisi ibu tidak stabil, kadang baik, tapi besoknya buruk lagi. Hari keempat pemeriksaan dokter, sebuah kalimat diucapkan. Guess what… ”Bagaimana kalau dituntaskan saja, jadi biar bener2 tuntas” dengan kata lain ”Bagaimana kalo di Operasi saja” Fuck you Doctor.. Kenapa baru sekarang anda ngomong begitu ??? bukankah pada waktu pertama kali sudah ditanyakan. Apa cukup hanya dengan obat saja. Kalau memang harus di Operasi, ya di Operasi saja, karena menurut beberapa orang yang mempunyai sakit serupa, dilakukan dengan operasi. Mendengar ucapan itu, tentu saja ibu menangis dalam hati.. berapa banyak waktu, tenaga, dan biaya tentunya yang terbuang, dan akan terbuang lagi untuk operasi. Tapi yang namanya cobaan harus diterima dengan lapang dada.


Actions

Information

One response

6 01 2009
-not- …Happy New Year 2009… « neverending story of me

[…] harus diterima dengan iklas dan tabah. ibu yang sudah setahun belakangan ini harus berjuang dengan sakitnya harus menyerah juga ditangan-Nya tepat tanggal 14 Desember 2008 pukul 19.30 Wita di ICU RS Surya […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: